đ” Khotbah Singkat Dari Roma 14 17
2704/2021 admin. đ 27 April 2021. đ Roma 8:1-17. đ Hidup dipimpin Roh Allah. Renungan. Yesus pernah mengkritik tajam beberapa pemuka agama Yahudi karena tidak memercayai Dia, padahal Alkitab menyaksikan Dia. Yesus berkata, kamu adalah anak-anak pembunuh dan pendusta karena bapamu, Iblis adalah pembunuh manusia dan pendusta (Yoh. 8:44-47).
RingkasanKotbah 24 Agustus 2014. "Dipanggil untuk mewujud nyatakan ibadah yang berkenan kepada Allah". Roma 12:1-8. Oleh: Pdt. Darwin Darmawan. Di ulang tahun GKI yang ke-26 ini, kita diingatkan kembali oleh Tuhan agar mewujud-nyatakan ibadah yang berkenan kepada Allah. GKI menyadari bahwa ibadah yang rutin dilakukan setiap minggu di
SABDAwebRm 14:17. karena kerajaan Allah itu bukannya hal makan minum, melainkan kebenaran dan sejahtera dan kesukaan di dalam Rohulkudus. BIS (1985) ©. SABDAweb Rm 14:17. Sebab kalau Allah memerintah hidup seseorang, apa yang ia boleh makan atau minum, tidak lagi penting. Yang penting ialah bahwa orang itu menuruti kemauan Allah, mengalami
RenunganHarian Roma 14:1-16. Apa perintah Tuhan bagi kita dalam hal-hal yang meragukan? Hal-hal praktis apakah yang kita perlu lakukan dalam hidup setiap hari? (Ayat. 1-6) Perintah Tuhan adalah terimalah orang yang lemah imannya tanpa mencakapkan pendapatnya, siapa yang makan jangan menghina orang yang tidak makan demikian sebaliknya sebab Allah telah menerima orang itu.
Perhatikanhal-hal yang harus dikejar oleh orang-orang Kristen. 1. keramah-tamahan, Rom 12:13. 2. apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun, Rom 14:19. 3. kasih, 1Kor 14:1. 4. keserupaan dengan Kristus, Fili 3:12,14. 5. apa yang baik bagi satu sama lain dan semua orang, 1Tes 5:15.
Berikutadalah khotbah Jumat renungan hidup Menyambut Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 2022 yang membahas pentingnya hijrah dan peningkatan kualitas ketakwaan. Di mana hal tersebut ditulis oleh KH Ade Muzaini Aziz yang merupakan Pengurus Lembaga Dakwah PBNU dan Pengasuh Perguruan Al Mu'in Tangerang Banten. Baca Juga: Teks Khotbah Jumat Singkat
AyatSH: Roma 14:13-23 Judul: Jangan Menjadi Batu Sandungan Paulus tidak hanya melarang warga jemaat di Roma untuk menghakimi orang lain, berkait dengan keyakinan akan imannya, tetapi melangkah lebih jauh dengan bersikap tidak membuat orang lain tersandung! (17). Konsep pelayanan seperti ini-tidak membuat orang lain jatuh tersandung
BacaanFirman Tuhan: Roma 8: 14-17. "Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah". Hidup rohani, umat yang percaya kepada Kristus Yesus yang dimerdekakan dari kuasa daging.
Roma1:16b berbunyi: "karena injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani". Poin ini tampaknya mendapatkan penekanan di 1:16-17. Kata "iman" muncul sebanyak tiga kali di ayat 17.
SuratPaulus kepada jemaat Roma, khususnya dalam Pasal 1:16-17 memegang peran sentral. Hampir semua penafsir Alkitab sepakat bawa inti keseluruhan Surat Roma terletak pada bagian ini. Ini adalah tema surat. Bagian yang lain, terutama Roma , hanyalah penjelasan terhadap Roma 1:16-17. Di dalam kedua ayat ini, Paulus menjelaskan alasan
Nas Roma 12:1-2 Pengkhotbah: sdri. Ludia Renungan: c. Ayat 14-17, Memiliki Etika yang baik. 15. Kelurga yang sehat Nas: Kejadian 6:9-22 dan kumpulan judul ini adalah hasil dari sebagian catatan pribadi setiap kali mendengarkan khotbah di berbagai ibadah yang di ikuti.
Adasekitar 20 orang dimulai dari 3 lagu Penyembahan, Doa Firman Tuhan, Khotbah Firman Tuhan singkat, dan terakhir satu orang berdoa Syafaat dan satu orang yaitu Ibu Gembala menutup Ibadah Doa. Khotbah Doa Malam Pembicara : Ibu Yefrida Sarah Hari : Rabu, 10 Juli 2018 Pelayan Tuhan yang Setia (Roma 12:11-21)
Rvi992w. Setelah menjelaskan bahwa anak Tuhan tidak boleh menjadi batu sandungan bagi sesamanya di ayat 13 s/d 18, maka apa yang harus kita lakukan kemudian? Pada 5 ayat terakhir yaitu di ayat 19 s/d 23, Paulus menjelaskan bagaimana anak Tuhan hidup menjadi berkat bagi sesama dengan mengejar sesuatu yang mendatangkan damai dan saling membangun tanpa meributkan hal-hal sekunder, misalnya tentang ayat pembahasan mengenai hidup dalam damai sejahtera itu dimulai di ayat 19, di mana ia menyimpulkan ayat sebelumnya dan memulai pengajaran baru yang menjadi dasar penjelasannya di ayat berikutnya, âSebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.â âSebab ituâ menunjukkan lanjutan dari ayat 18 dan suatu kesimpulan dari ayat sebelumnya. Jika di ayat 18, kita belajar bahwa dengan kita tidak menjerumuskan orang lain ke dalam dosa, kita berkenan kepada Allah dan dihormati manusia, maka di ayat 19, Paulus mengingatkan jemaat Roma kembali mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera bdk. Rm. 1218. Kata kerja âmengejarâ dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk aktif dan present. Berarti, sebagai umat Tuhan, kita dituntut untuk secara aktif terus-menerus mengejar sesuatu yang mendatangkan damai sejahtera. Penulis Surat Ibrani mengajarkan hal yang sama, âBerusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.â Ibr. 1214 Dengan demikian, setiap anak Tuhan dituntut untuk mengejar hidup damai dengan semua orang. Damai sejahtera seperti apa? Kembali, Paulus telah menguraikannya di ayat sebelumnya, yaitu ayat 17 yaitu damai sejahtera yang didahului oleh kebenaran keadilan dan disertai dengan sukacita yang kesemuanya dikerjakan oleh Roh Kudus di dalam Kerajaan Allah. Berarti, ada pembatasan arti damai sejahtera yang Paulus ingin ajarkan, yaitu berkaitan dengan kebenaran keadilan, sukacita, Roh Kudus, dan berakhir dengan Kerajaan Allah. Memisahkan dan meredefinisi damai sejahtera di luar hal-hal tersebut bukanlah damai sejahtera yang diajarkan Alkitab! Dalam mengejar damai sejahtera itu, kita tetap harus mempertimbangkan aspek kebenaran keadilan, sukacita, Roh Kudus, dan Kerajaan Allah, sehingga di dalam proses mengejar itu, kita tidak berkompromi terhadap dosa. Di dunia postmodern, damai sejahtera sudah menjadi bahan obralan yang dijual murahan. Damai sejahtera TIDAK lagi dimengerti berkaitan dengan kebenaran keadilan apalagi Kerajaan Allah. Para pemimpin gereja arus utama mempromosikan damai sejahtera berbeda dari apa yang diajarkan Alkitab. Ide utama mereka adalah ide humanis atheis yang antroposentris, ujung-ujungnya kompromi iman, lalu mengajarkan secara eksplisit maupun implisit bahwa semua agama itu sama saja. Ketika dunia menawarkan konsep damai sejahtera palsu, Alkitab mengajarkan damai sejahtera yang berkaitan dengan Kerajaan Allah yang tentu TIDAK mengenal kompromi. Damai sejahtera sejati TIDAK berkompromi dengan dosa sedikitpun bdk. Ibr. 1214 di atas. Itulah yang harus kita kejar terus-menerus di dalam hidup kita. Bagaimana menjadi alat perdamaian bagi sesama kita TANPA mengompromikan dosa mereka?! Ketika kita menegur dosa mereka, itu TIDAK berarti kita menjadi damai sejahtera bagi mereka. Justru, ketika kita menegur dosa mereka dengan kasih disertai kebenaran Allah, kita sebenarnya mendatangkan damai sejahtera bagi mereka, sehingga mereka merasakan damai sejahtera Kristus yang mengoreksi dan mengakibatkan mereka bertobat oleh karya aktif Roh Kudus. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadi alat perdamaian bagi sesama kita TANPA mengkompromikan dosa dan iman kita?!Kita bukan hanya menjadi alat perdamaian, tetapi Paulus juga mengajar kita untuk saling membangun. King James Version KJV menerjemahkan, âone may edify anotherâ =seorang dapat mengajar orang lain. New International Version NIV menerjemahkan, âand to mutual edificationâ =dan kepada pengajaran satu sama lain. Terjemahan dari bahasa Yunaninya adalah, âpembinaan.â Hasan Sutanto, 2003, Perjanjian Baru Interlinear, hlm. 871 Dari struktur bahasa Yunani, kata ini sebenarnya bukan kata kerja, tetapi kata benda. Kata benda ini disejajarkan dengan kata sebelumnya yaitu âdamai sejahteraâ yang juga merupakan kata benda paralelisme. Dengan kata lain, ayat 19 ini dapat diterjemahkan, âKarena itu, marilah kita mengejar hal-hal dari damai sejahtera dan hal-hal pembinaan satu sama lain.â Dari sini, kita belajar bahwa kita bukan hanya menjadi alat perdamaian saja, tetapi kita dituntut untuk saling memberi pengajaran. Perdamaian harus disertai dengan pengajaran satu sama lain. Di sini, kembali, Paulus TIDAK memisahkan perdamaian dari pengajaran. Kalau orang Kristen abad postmodern dan tidak sedikit pemimpin gereja hari-hari ini memisahkannya, lalu mengajar bahwa doktrin itu tidak penting, yang penting bersatu dan berdamai saja, âdalam Yesus kita bersaudara,â itu jelas tidak bertanggungjawab. Mengapa? Karena Paulus sendiri mengajar bahwa kita tetap perlu mengejar hal-hal damai sejahtera dan juga pengajaran satu sama lain. Mengapa Paulus mengaitkan dua hal ini? Karena damai sejahtera tanpa disertai pengajaran satu sama lain bisa berakibat fatal. Artinya, damai sejahtera tanpa pengajaran akan menjadi suatu perasaan damai sejahtera yang tidak ada dasarnya dan bahkan bisa menipu dan menyesatkan, yang tidak ada bedanya seperti konsep âdamai sejahteraâ ala postmodern. Lalu, pengajaran itu bukan satu arah sifatnya, tetapi dua arah perhatikan kata âsalingâ atau mutual. Artinya, kita sama-sama belajar dan mengajar sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, sehingga tidak ada waktu bagi kita untuk meributkan hal-hal yang tidak penting. Ketika gereja-gereja Tuhan bersama-sama dengan rendah hati mau belajar bersama-sama akan kebenaran firman Tuhan, maka kita dapat bersatu memperluas Kerajaan Allah dengan kebenaran firman-Nya Sola Scriptura. Tetapi sayangnya, banyak gereja sudah stagnan dan tidak mau lagi terbuka untuk bersama-sama belajar firman Tuhan dengan segudang argumentasi, misalnya, âdoktrin tidak pentingâ, âAlkitab belum tentu satu-satu kebenaran, di dalam agama lain juga ada kebenaranâ, âjangan menghakimiâ, âjangan fanatikâ, dan argumentasi âtheologisâ dan âlogisâ lainnya yang tidak bertanggungjawab. Mereka lebih memperhatikan hal-hal eksternal ketimbang internal. Mereka lebih memperhatikan megahnya gedung gereja, tuanya sejarah gereja mereka, dan bahkan tua dan kunonya kursi-kursi dan pendeta gereja mereka. Gereja seperti ini sudah mau mati, tetapi tidak pernah sadar. Yang mereka perhatikan adalah hal-hal sekunder dan fana, akibatnya tidak usah heran, di negara-negara Barat, banyak gereja-gereja Protestan arus utama yang dipengaruhi oleh âtheologiâ liberal baik eksplisit maupun implisit sudah menjadi monumen, yang hanya dikunjungi oleh banyak orang-orang tua, sedangkan banyak orang-orang muda yang melarikan diri ke diskotek, pub, bar, dll. Sudah saatnya, gereja Tuhan BANGKIT. BANGKIT seperti apa? BANGKIT kembali kepada Alkitab, perjuangkan kebenaran firman-Nya, beritakan Injil-Nya, dan bersaksilah bagi kita diingatkan Paulus untuk mengejar damai sejahtera dan pembinaan satu sama lain, maka di ayat 20, ia mengingatkan kembali, âJanganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung!â Ketika kita sudah mengetahui bagaimana mengejar damai sejahtera dan pembinaan satu sama lain, maka otomatis kita tidak lagi merusakkan pekerjaan Allah hanya karena meributkan hal-hal sepele/sekunder, misalnya makanan. Di sini, Paulus mengaitkan bahwa barangsiapa yang menjerumuskan orang lain ke dalam dosa adalah orang yang merusakkan pekerjaan Allah. Di dalam Kekristenan dewasa ini, hal ini juga tetap berlaku. Jangan hanya karena perbedaan pendapat dalam hal-hal sekunder saja, kita sudah seperti kebakaran jenggot, menantang orang yang berbeda pendapat itu di dalam perdebatan-perdebatan yang sebenarnya membuang waktu. Ketika kita mencoba beradu mulut dan logika dengan mereka yang berbeda pendapat/doktrin di dalam hal-hal sekunder, kita sebenarnya sedang merusakkan pekerjaan Allah, karena kita lebih memperhatikan hal-hal sekunder ketimbang hal-hal primer. Hal ini tidak berarti kita kompromi! Seperti yang sudah saya jelaskan di bagian-bagian eksposisi Roma di pasal sebelumnya, untuk hal-hal sekunder, biarlah kita tetap menghargai, tetapi tidak berarti kompromi, sedangkan untuk hal-hal primer, marilah kita sengit memperjuangkannya dan berani menghadapi para bidat yang memang benar-benar melawan doktrin-doktrin utama iman Kristen. Bagaimana dengan kita? Biarlah kritikan Paulus yang tajam ini juga menjadi refleksi bagi kita yang gemar berdebat tanpa mengerti motivasi, cara, sasaran, dan tujuan debat yang Paulus menjelaskan bahwa segala sesuatu itu suci, tetapi ketika kita membuat orang lain tersandung karena makanan yang kita makannya, maka kita itu celaka/jahat. International Standard Version ISV menerjemahkannya, âEverything is clean, but it is wrong to make another person fall because of what you eat.â =Segala sesuatu itu bersih, tetapi adalah salah untuk membuat orang lain berdosa/jatuh karena apa yang kita makan. KJV menerjemahkan kata âcelakalahâ sebagai tindakan yang jahat evil. Terjemahan dari bahasa Yunani menggunakan terjemahan yang sama dengan ISV yaitu âsalah.â Dengan kata lain, selain merusakkan pekerjaan Allah, orang Kristen yang menjerumuskan orang lain/sesamanya dapat dikategorikan sebagai tindakan yang salah. Mengapa? Karena dia sebenarnya membuat sesamanya tersinggung di dalam hal-hal sekunder, misalnya makanan. Jika diaplikasikan di dalam konteks sekarang, barangsiapa atau âhamba Tuhanâ siapa yang berani menjerumuskan jemaat atau orang Kristen dari gereja lain yang berbeda doktrin dengannya ke dalam perasaan bersalah karena tidak mematuhi apa yang dikatakan âhamba Tuhanâ ini misalnya, jika tidak dibaptis selam tidak âalkitabiahâ, jika tidak bisa berbahasa lidah maka tidak ada âroh kudusâ, dll, âhamba Tuhanâ ini sebenarnya sedang merusak pekerjaan Allah karena terlalu meributkan hal-hal sekunder ditambah tindakannya ini dapat dikategorikan sebagai tindakan yang salah/jahat/tidak berguna. Bertobatlah jika kita sebagai pelayan Tuhan atau jemaat Kristen suka mengintimidasi orang Kristen lain untuk hal-hal sekunder!Lalu, apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa hidup dalam damai sejahtera dan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain? Paulus memaparkan tiga sikap di dalam ayat 21 s/d 23, yaituPertama, di ayat 21, ia mengajarkan, âBaiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu.â Dengan kata lain, supaya kita tidak menjadi batu sandungan bagi sesama kita, kita harus rela tidak makan daging atau minum anggur. Kata kerja âmakanâ dan âminumâ ini di dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk aktif. Makan daging dan minum anggur di dalam konteks ayat ini jelas menunjuk kepada sesuatu yang haram yang tidak dimakan oleh orang-orang Yahudi di dalam tradisi mereka. Sedangkan orang-orang non-Yahudi bebas makan dan minum segalanya. Dari sini, Paulus mengajar bahwa sebagai orang-orang Kristen non-Yahudi maupun orang Kristen Yahudi yang sudah mengerti dan tidak mengkategorikan sesuatu sebagai haram dan halal, maka mereka harus rela tidak menyinggung orang Kristen Yahudi yang masih memegang adat istiadat Yahudi tersebut. Di sini, berarti kita harus AKTIF menyangkal diri untuk tidak menuruti apa yang kita mau agar orang lain tidak tersinggung. Ingatlah, semua ini berlaku HANYA bagi orang Kristen saja, tidak bagi orang non-Kristen! Sehingga, jangan sekali-kali memakai ayat ini untuk mendukung orang Kristen dalam menghormati orang non-Kristen yang sedang berpuasa! Itu TIDAK sesuai dengan konteks dan sama sekali TIDAK bertanggungjawab! Di dalam konteks zaman kita, hal ini pun bisa kita aplikasikan. Ketika kita berselisih paham/doktrin dengan orang Kristen lain di dalam hal-hal sekunder misalnya tentang baptisan anak, dll, marilah kita tidak usah terlalu banyak menyinggungnya. Kita boleh menyinggungnya sedikit sambil berdiskusi dengan menggali Alkitab, tetapi jika orang yang kita ajak diskusi tetap bersikukuh menolak baptisan anak, kita tidak perlu memperpanjang dan meributkan masalah tersebut, toh, orang yang menerima atau menolak baptisan anak TIDAK mempengaruhi keselamatan! Mari kita belajar untuk menyangkal diri untuk tidak melampiaskan pengetahuan kita untuk dipaksakan ke orang lain. Belajarlah menahan diri dan berdoalah agar kiranya Roh Kudus mengubah pemikiran doktrinal orang yang kita ajak diskusi di ayat 22, Paulus mengemukakan, âBerpeganglah pada keyakinan yang engkau miliki itu, bagi dirimu sendiri di hadapan Allah. Berbahagialah dia, yang tidak menghukum dirinya sendiri dalam apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.â Analytical-Literal Translation ALT menerjemahkannya, â_You_ have faith? Be having [it] to yourself before God. Happy is the one not judging himself in what he approves [of].â =Kamu memiliki iman? Milikilah itu bagi dirimu sendiri di hadapan Allah. Berbahagialah orang yang tidak menghakimi dirinya sendiri akan apa yang disetujuinya. Dengan kata lain, Paulus mengajarkan bahwa kita pribadi sebagai anak-anak Tuhan disuruh berpegang pada iman kita masing-masing di hadapan Allah dan berbahagialah kita ketika kita tidak menyalahkan diri sendiri atas apa yang kita percayai/setujui itu. Di sini, Paulus tidak kompromi! Ingatlah kembali, seluruh pasal 14 berbicara mengenai hal-hal sekunder, sehingga ketika Paulus mengatakan bahwa biarlah kita pribadi berpegang pada iman masing-masing di hadapan Allah, itu tentu TIDAK menyangkut hal-hal primer, apakah percaya Yesus satu-satunya Tuhan dan Juruselamat atau Yesus itu salah satu Juruselamat saja, tetapi menyangkut hal-hal sekunder konteksnya adalah tentang makanan. Ketika Paulus menguraikan masalah makanan sebagai hal sekunder, di zaman ini, kita juga menghadapi hal serupa. Teguran Paulus mengingatkan kita bahwa kepercayaan/theologi kita apa pun dalam hal sekunder hendaklah kita pegang secara pribadi di hadapan Allah dan janganlah pernah menyalahkan diri karena apa yang telah kita putuskan/imani itu. Hal-hal sekunder tersebut TIDAK menyelamatkan kita, sehingga jangan pernah memaksakan doktrin-doktrin sekunder tersebut kepada orang Kristen lain! Yang perlu kita lakukan adalah berpegang dan mempertanggungjawabkan atas segala sesuatu yang kita di ayat terakhir, 23, ia mengajar, âTetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.â Poin terakhir agar kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain yaitu kita melakukan segala sesuatu berdasarkan iman, bukan berdasarkan keputusan orang lain yang mengakibatkan kita bimbang. Kita diperintahkan Paulus untuk TIDAK bimbang dan konsisten. Ketika kita percaya akan doktrin sekunder tertentu, percayalah dan peganglah, serta lakukan. Di dalam konteksnya, ketika ada jemaat Roma yang masih memegang adat istiadat Yahudi yaitu tidak makan makanan yang haram, biarlah mereka melakukannya berdasarkan apa yang dia imani bukan berdasarkan apa yang mereka dengar dari orang lain yang mengakibatkan mereka bimbang. Kebimbangan atau keraguan tersebut justru adalah dosa, karena tidak dilakukan dengan keteguhan hati dan kekonsistenan. Di dalam konteks zaman kita sekarang, ketika ada orang Kristen yang mempercayai baptisan anak, biarkanlah orang itu mempercayainya dan melakukannya berdasarkan imannya. Begitu juga dengan mereka yang menolak baptisan anak, mereka tetap harus mempercayainya dengan bertanggungjawab, lalu melakukannya dengan iman. Biarlah kesemuanya itu dilakukan dengan dasar iman dan pengertian yang bertanggungjawab di hadapan kita merenungkan kelima ayat di atas, sudahkah kita memiliki keterbukaan hati untuk mengejar damai sejahtera dan pembinaan bagi saudara seiman kita yang lain dengan tidak menjerumuskan mereka ke dalam dosa? Allah yang telah membeli anak-anak-Nya melalui darah penebusan Kristus, masa kita merusakkan karya-Nya dengan meributkan hal-hal sepele? Berusalah hidup dalam damai sejahtera dan pengajaran satu sama lain yang TIDAK mengompromikan dosa dan iman. Amin. Soli Deo Gloria.
Rancangan Khotbah Minggu Pentakosta, 15 Mei 2016Oleh Pdt. Alokasih Gulo[1] Selamat Merayakan Pentakosta, Shalom!Hari ini, kita merayakan pentakosta, merayakan peristiwa pencurahan Roh Kudus ke atas orang-orang percaya yang berkumpul di satu tempat di Yerusalem, tidak lama setelah Yesus naik ke surga lih. Kis. 2. Sejak saat itu, terjadi perubahan besar dalam diri dan kehidupan orang-orang percaya, dari yang tadinya masih ragu-ragu bahkan takut menyaksikan Kristus menjadi berani dan bersemangat memberitakan Injil Kristus ke mana-mana, mulai dari Yerusalem sendiri hingga ke bangsa-bangsa lain, termasuk ke Roma yang pada waktu itu dikenal sebagai negara âadidayaâ karena memiliki kekuasaan yang cukup besar di berbagai wilayah di luar Roma sendiri, termasuk di Israel/Yahudi. Itulah sebabnya dalam kitab Roma ini Paulus kadang-kadang menyinggung tradisi/hukum Yahudi, dan kadang-kadang juga menyinggung tradisi/hukum kita tidak hanya sekadar merayakan peristiwa pencurahan Roh Kudus tersebut secara formalitas melalui kebaktian pada hari ini, tidak pula sekadar merayakannya dengan penggunaan kain liturgi berwarna merah sampai-sampai ada yang bingung memilih warna merah tersebut merah hati, merah menyala, merah jambu, merah muda, merah delima, atau merah seperti apa?; tidak juga sekadar perayaan yang terkesan monumental atau glamor sehingga kadang-kadang mengaburkan inti dari perayaan itu sendiri. Perayaan pentakosta melebihi semuanya itu, seharusnya membawa perubahan mendasar dalam diri dan kehidupan orang-orang yang telah Paulus, orang-orang percaya pada prinsipnya telah menerima Roh Allah, dan Roh Allah inilah yang memimpin orang-orang percaya dimaksud dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, bukan lagi roh kedagingan eheha nösi niha, bukan lagi roh ketakutan eheha waâataâu, bukan lagi roh kefasikan dan kelaliman eheha wa lö atulö, eheha waâafaito, eheha waguaguasa, eheha wa lö sökhi, bukan lagi roh keangkuhan eheha wayawasa ba fanandrawaisi, bukan lagi roh penghakiman eheha wanguhuku, bukan lagi roh pemecah-belah eheha wamazawili, dan bukan lagi roh pembenaran diri sendiri eheha wayaâosa, melainkan pembenaran oleh kasih karunia Allah bnd. Rom. 829-30. Ketika kita dipimpin oleh Roh Allah berarti kita juga tinggal bersama dengan Tuhan sifao khö Keriso ita, dan Tuhan tinggal di dalam kita so Zoâaya ba waâaurida, dan semuanya itu akan terlihat dengan jelas dalam kehidupan kita di mana pun kita berada. Orang yang dipimpin oleh Roh Kudus atau sebaliknya tidak dipimpin oleh Roh Kudus, akan terlihat dalam kata-katanya, terlihat dalam komunikasinya dengan sesamanya bnd misalnya orang zaman sekarang lebih mudah tersenyum kepada media komunikasinya daripada kepada sesama manusia, lebih ramah dalam dunia sosial/maya daripada dunia nyata, terlihat dalam relasinya dengan sesama selalu bermasalah atau lebih harmonis, ... terlihat dalam seluruh eksistensi hidupnya. Intinya adalah bahwa orang-orang yang telah menerima Roh Allah, yang dipimpin oleh Roh Kudus, telah mengalami transformasi kehidupan tebohouni waâauri, hidupnya berubah menjadi lebih baik dari waktu ke apa âkeuntunganâ kita apabila sudah menerima Roh Kudus dari Allah itu? Apakah hanya sekadar mengubah diri dan kehidupan kita menjadi orang-orang yang dipimpin oleh Roh Kudus? Tidak! Ternyata, Roh Kudus itu juga mengubah status kita, dan ini sangat penting dan sangat menentukan bagi masa depan kita. Implikasi dari penerimaan Roh Kudus adalah bahwa setiap orang percaya yang hidup menurut Roh Allah tersebut kini disebut sebagai anak Allah yang sudah diangkat secara sah. Dalam hukum Romawi, seseorang memang sulit diangkat sebagai anak, namun apabila seseorang sekali saja berhasil diangkat menjadi anak maka statusnya sebagai anak tersebut bersifat permanen. Metafora ini tepat untuk menjelaskan kebenaran teologis tentang jaminan kehidupan orang-orang percaya yang telah menerima Roh Kudus. Anak alamiah dapat dicabut hak warisnya bahkan âdibunuhâ, tetapi orang yang telah diangkat secara sah sebagai anak tidak boleh diperlakukan lagi seperti itu. Inilah salah satu cara Paulus untuk menggambarkan keselamatan orang-orang percaya Rom. 815, bnd. 823. Jadi tidak perlu lagi ada ketakutan atau kekuatiran akan pencabutan hak waris yang telah kita peroleh dari Tuhan, tidak perlu takut lagi akan adanya penghukuman atau pembunuhan, sebab kita sekarang adalah orang-orang yang telah diangkat oleh Allah sebagai itukah âkeuntunganâ kita apabila sudah menerima Roh Kudus dari Allah? Tidak juga! Masih ada lagi! Orang-orang percaya yang telah menerima Roh Allah, memiliki hubungan yang sangat akrab dengan Allah Bapa, Ia menjadi seperti ayah kita sendiri. Istilah âAbbaâ berasal dari bahasa Aram, biasa digunakan oleh anak-anak Yahudi untuk memanggil ayah mereka sendiri. Jadi, orang yang telah menerima dan dipimpin oleh Roh Allah adalah anak Allah bnd. ay. 14, yang boleh berseru kepada-Nya dengan panggilan âya Abba, ya Bapaâ, sungguh suatu panggilan mesra dan akrab; ah, begitu dekatnya dengan Tuhan, dan ini boleh terjadi karena Roh Allah sendiri menolong kita dalam seruan atau doa kita kepada Tuhan bnd. Roma 826-27. Roh Kudus inilah juga yang meyakinkan kita, dan memberi kesaksian bahwa kita adalah anak-anak Allah yang diangkat secara sah. Tentu, kita pun mesti menunjukkan perbuatan yang mencerminkan perbuatan anak-anak Allah, anak-anak yang tidak mempermalukan Bapanya, anak-anak yang tidak menyusahkan hati Bapanya, anak-anak yang membanggakan Bapanya, dan anak-anak yang begitu dekat dengan lain yang juga sangat penting dari pengangkatan kita sebagai anak-anak Allah dan keintiman kita dengan âAyahâ kita tersebut adalah bahwa kita menjadi ahli waris Allah, dan kalau kita ikut menderita dengan Kristus maka kita juga adalah ahli waris Kristus. Pewarisan seperti ini disebut sebagai pewarisan ganda, yang juga sudah dikenal dalam PL lih. Ul. 2115-17. Anak sulung mendapat dua bagian dalam warisan, pertama hak warisan sebagai anak yang lahir dalam keluarga itu, dan kedua hak waris karena ia memenuhi persyaratan khusus sebagai anak sulung. Jadi, kalau kita percaya kepada Kristus, maka kita pun memperoleh satu warisan penting, yaitu menjadi ahli waris Allah, dalam hal ini berhak menerima janji-janji Allah untuk MASUK ke dalam Kerajaan-Nya. Namun, apabila kita memenuhi persyaratan khusus, yakni ikut menderita dengan Kristus bnd. Fil. 129, maka kita juga memperoleh warisan yang kedua/ganda, yaitu menjadi ahli waris Kristus, dalam hal ini MEMILIKI Kerajaan Allah yang telah kita masuki itu bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Kalau kita âdipimpin oleh Roh Allahâ, dan kalau kita âhidup menurut Roh Allahâ, kita pasti akan menderita dengan Kristus. Hidup menderita yang kita jalani dalam Roh Allah bersama Kristus inilah yang kemudian membuat kita dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus. Inilah pengharapan orang-orang percaya yang telah menerima dan dipimpin oleh Roh berefleksi, Roh Kudus pasti menyertai![1] Khotbah Minggu, 15/05/2016, di Kebaktian Siang BNKP Jemaat Denninger.
khotbah singkat dari roma 14 17